29 July 2008

Perjalanan Menuju Kesempurnaan

Bila perjalanan hijrah menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi "puncak" perjalanan seorang hamba menuju kesempurnaan ruhani.
Di sebuah kebun anggur terlihat seorang lelaki dengan kedua kaki penuh luka. Ia tampak begitu kelelahan. Dari wajah tampannya terpancar gurat-gurat kesedihan yang mendalam. Dengan mata berkaca-kaca ia berguman,
"Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kurangnya kesanggupanku, dan kerendahan diriku berhadapan dengan manusia. Wahai Dzat yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Engkaulah Pelindung bagi orang lemah, dan Engkau jualah pelindungku! Kepada siapakah diriku hendak Engkau serahkan? Kepada orang jauh yang berwajah suram terhadapku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai diriku?
Jika Engkau tidak murka kepadaku, maka itu semua tak kuhiraukan, karena sungguh besar nikmat yang telah Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung pada sinar cahaya wajah-Mu, yang menerangi kegelapan dan mendatangkan kebajikan di dunia dan di akhirat, dari murka-Mu yang hendak Engkau turunkan kepadaku. Hanya Engkaulah yang berhak menegur dan mempersalahkan diriku hingga Engkau berkenan. Sungguh tiada daya dan kekuatan apapun melainkan atas perkenan-Mu".
Siapakah lelaki itu? Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW. Fragmen ini terjadi tatkala Beliau bersembunyi di sebuah kebun anggur milik Uthbah bin Rabi'ah untuk menghindari kejaran orang-orang Bani Tsaqif. Mereka mengejar-ngejar dan melempari Rasul setelah beliau mengajak mereka untuk mentauhidkan Allah. Peristiwa ini terjadi pada tahun-tahun terakhir dakwah Rasulullah SAW di Mekah.
Beberapa buku Shirah Nabawiyah mengungkapkan bahwa masa itu adalah masa paling sulit dan menyedihkan dalam kehidupan beliau. Betapa tidak, orang-orang kafir Quraisy semakin menampakkan permusuhannya pada Rasulullah SAW dan para sahabat. Mereka pun telah menghalalkan segala macam cara untuk menghentikan dakwah beliau.
Sebelum peristiwa Tha'if, ada beberapa rangkaian peristiwa menyedihkan yang dialami Rasulullah SAW. Pertama, pemboikotan total yang dilakukan kaum kafir Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Abdul Mutthalib. Pemboikotan ini, yang hampir membuat kaum Muslimin mati kelaparan, berlangsung selama tiga tahun. Setelah nestapa itu berlalu terjadi peristiwa kedua, yaitu meninggalnya dua "pelindung" Rasulullah SAW dari kalangan manusia. Mereka adalah Abu Thalib; paman yang selalu melindungi dan menjaga beliau dari intimidasi kaum kafir Quraisy, serta Siti Khadijah; seorang wanita mulia tempat Rasul bersandar, serta berbagi suka dan duka.
Meninggalnya Abu Thalib dan Siti Khadijah tak pelak menjadi pukulan bagi Rasulullah SAW. Perlawanan dan penolakan orang-orang kafir semakin keras. Salah satunya adalah peristiwa pengusiran yang dilakukan penduduk Tha'if. Demikian beratnya beban yang dipikul, Rasul pun harus "curhat" kepada Allah karena merasa tidak mampu membimbing mereka menuju cahaya Islam.

Hiburan dari Allah SWT
Dalam situasi tertekan ini, Allah SWT "menghibur" Rasulullah SAW dengan memperjalankannya ke langit melalui peristiwa Isra Mi'raj. Isra Mi'raj adalah perjalanan spektakuler yang pernah dilakukan manusia. Betapa tidak, Rasulullah SAW melakukan perjalanan malam hari dan dalam waktu yang amat singkat dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina. Dari Al-Aqsa, Beliau naik ke langit melalui beberapa tingkat, menuju Baitul Makmur, Sidratul Muntaha (tempat tiada berbatas), Arasy (takhta Allah), hingga Beliau menerima wahyu langsung dari Allah SWT tanpa perantaraan Jibril.
Isra Mi'raj terjadi pada 27 Rajab, tepatnya satu tahun sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Dalam QS Al-Isra [17] ayat pertama difirmankan, "Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Isra Mi'raj tidak sekadar perjalanan "hiburan" bagi Rasul. Isra Mi'raj adalah perjalanan bersejarah yang akan menjadi titik balik kebangkitan dakwah Rasulullah SAW. John Renerd dalam buku In the Footsteps of Muhammad: Understanding the Islamic Experience, seperti dikutip Azyumardi Azra, mengungkapkan bahwa Isra Mi'raj adalah satu dari tiga perjalanan terpenting dalam sejarah hidup Rasulullah SAW, selain perjalanan hijrah dan Haji Wada. "Isra Mi'raj," tulisnya, "Benar-benar merupakan perjalanan heroik dalam menempuh dunia gaib".
Bila perjalanan hijrah dari Mekah ke Madinah pada 662 M menjadi permulaan dari sejarah kaum Muslimin, atau perjalanan Haji Wada yang menandai penguasaan kaum Muslimin atas kota suci Mekah, maka Isra Mi'raj menjadi puncak perjalanan seorang hamba menuju Al-Khalik. Isra Mi'raj adalah perjalanan menuju kesempurnaan ruhani (insan kamil). Perjalanan ini, menurut para sufi, adalah perjalanan meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi. Inilah perjalanan yang amat didambakan setiap pengamal tasawuf.
Menurut Dr Jalaluddin Rakhmat, salah satu momen penting peristiwa Isra Mi'raj terjadi tatkala Rasulullah SAW "berjumpa" dengan Allah SWT. Ketika itu, dengan penuh hormat Rasul berkata, "Attahiyatul mubaarakaatush shalawatuth thayyibatulillah"; "Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah saja". Allah SWT pun berfirman, "Assalamu'alaika ayyuhan nabiyu warahmatullahi wabarakaatuh". Mendengar percakapan ini, para malaikat serentak mengumandangkan dua kalimah syahadat. Ungkapan bersejarah ini kemudian diabadikan sebagai bacaan shalat.
Sebagai pribadi berakhlak mulia, Rasulullah SAW sangat menjauhi sikap egois. Beliau ingin ucapan salam dan "undangan" Allah tersebut dirasakan segenap umatnya. Beliau kembali ke bumi dengan membawa salam keselamatan dari Allah SWT lewat perintah shalat. Inilah kado spesial dari Allah SWT bagi orang-orang beriman.
Prof Seyyed Hussein Nasr dalam buku Muhammad Kekasih Allah (Mizan, 1993) mengungkapkan bahwa pengalaman ruhani yang dialami Rasulullah SAW saat Mi'raj mencerminkan hakikat spiritual dari shalat yang kita lakukan sehari-hari. "Shalat adalah mi'raj-nya orang-orang beriman," demikian ungkapan sebuah hadis.

Sabar dan Shalat
Andai kita tarik garis merahnya, ada beberapa urutan dalam perjalanan Rasulullah SAW ini. Pertama, adanya penderitaan dalam perjuangan yang disikapi dengan kesabaran. Kedua, kesabaran yang berbuah balasan dari Allah berupa perjalanan Isra Mi'raj dan perintah shalat. Dan ketiga, shalat menjadi senjata bagi Rasulullah SAW dan kaum Muslimin untuk bangkit dan merebut kemenangan.
Ketiga hal ini terangkum dengan sangat indah dalam Alquran, "Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (Yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya." (QS Al-Baqarah [2]: 45-46). Wallahu a'lam bish-shawab. (Ems) (www.republika.co.id)

Kisah Si Ulat Kecil

MALAM. Terdengar suara mencurigakan dari depan rumahku. Kucoba intip keluar. Tidak ada siapa-siapa. Sepi. Suara itu masih terdengar. Penasaran, aku segera keluar untuk mencari sumber suara. Kubuka pintu depan dengan perlahan. Brrrr. Udara dingin segera menerpaku. Kutajamkan pendengaranku. Suara itu semakin keras kudengar. Berasal dari kebun kecil didepan rumah. Setelah kuamati dengan seksama, ternyata suara itu dari pohon pisang yang tumbuh subur. Kusibakkan dedaunan pisang, dan kutemukan beberapa ujung daunnya tergulung. Rapi. Iseng, kurobek daunnya. Dan kutemukan seekor ulat mungil berwarna hijau sedang asyik dan rakus memakan daun pisang.

Sejenak aku tertegun. Di malam yang dingin, di saat makhluk lain sedang terlelap di tempat yang nyaman dan hangat. Si ulat kecil sedang gigih berusaha memenuhi kebutuhan hidupnya.

Esok harinya, aku lebih tertegun lagi. Ternyata kerja si ulat kecil belum selesai juga. Makan, makan lagi dan kembali makan. Walau kadang ada rasa jengkel juga, karena hampir semua daun tanaman yang kutanam dimakan si ulat kecil. Mungkin sebagian dari kita merasa geli bila melihat ulat, bahkan sebagian takut. Tapi ada sebuah pelajaran yang dapat kita ambil.

Kalau seekor ulat kecil demikian gigihnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, siang dan malam tanpa henti ia mencari rizki-Nya. Lalu bagaimanakah dengan kita, makhluk Allah yang sempurna, yang Allah lebihkan dari makhluk Allah yang lain? Yang mempunyai sesuatu yang tidak dimiliki makhluk lain, akal? Mungkin teramat sering kita ‘menggugat’ Allah, karena ketiadaan materi (uang). Mungkin kita pernah ‘mengkambing-hitamkan’ Allah ketika rizki yang kita kejar tak kunjung tiba. Atau ketika pun tiba, tak seperti yang kita harapkan dan bayangkan. Jika hal itu terjadi pada kita, ingatlah kisah si ulat kecil tadi. Ia begitu optimis, bahwa Allah tidak akan pernah melupakan rizkinya sedikitpun, baik hari ini ataupun esok hari.

Mungkin, mereka yang dengan suka rela merendahkan dirinya (bukan rendah diri), menghiba belas kasihan orang lain, belum pernah mendengar cerita kegigihan si ulat kecil. Karena tak ada satupun makhluk Allah yang tidak dijamin rizkinya. Dan tangan di atas itu (sungguh, sangat) lebih mulia (sekali) dari pada tangan yang dibawah.

Burung yang keluar dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan lapar, pulang di sore hari dalam keadaan kenyang. Yuk, terus berusaha. Jangan pernah menyerah.

24 July 2008

Cinta dari Darah dan Ruh

LELAKI itu sudah mengabdi pada ibunya sampai tuntas. Ia menggendong ibunya yang lumpuh. Memandikan dan mensucikannya dari semua hadatsnya. Ikhlas penuh ia melakukannya. Itu balas budi dari seorang anak yang menyadari bahwa perintah berbuat baik kepada orang tua diturunkan Allah persis setelah perintah tauhid.

Tapi entah karena dorongan apa ia kemudian bertanya pada Umar bin Khattab. "Apakah pengabdianku sudah cukup untuk membalas budi ibuku?" Lalu Umar menjawab, "Tidak! Tidak cukup! Karena kamu melakukannya sembari menunggu kematiannya, sementara ibumu merawatmu sembari mengharap kehidupanmu."

Tidak! Tidak! Tidak!

Tidak ada budi yang dapat membalas cinta seorang ibu. Apalagi mengimbanginya. Sebab cinta ibu mengalir dari darah dan ruh. Anak adalah buah cinta dua hati, ibu dan bapak. Tapi ia tidak dititipkan dalam dua rahim. Ia dititipkan dalam rahim sang ibu selama sembilan bulan: di sana sang hidup bergeliat dalam sunyi sembari menyedot saripati kehidupan sang ibu. Ia lalu keluar diantar darah: inilah ruh baru yang dititipkan dari ruh yang lain.

Itu sebabnya cinta ibu merupakan cinta misi. Tapi dengan ciri lain yang membedakannya dari jenis cinta misi lainnya, darah! Ya, darah! Anak adalah metamorfosis dari darah dan daging sang ibu, yang lahir dari sebuah kesepakatan. Cintga ini adalah campuran darah dan ruh. Ketika seorang ibu menatap anaknya yang sedang tertidur lelap, ia akan berkata di akar hatinya: itu darahnya, itu ruhnya! Tapi ketika ia memandang anaknya sedang merangkak dan belajar berjalan, ia akan berkata di dasar jiwanya: itu hidupnya, itu harapannya, itu masa depannya! Itu silsilah yang menyambung kehadirannya sebagai peserta alam raya.

Itu kelezatan jiwa yang tercipta dari hubungan darah. Tapi di atas kelezatan jiwa itu ada kelezatan ruhani. Itu karena kesadarannya bahwa anak adalah amanat langit yang harus dipetanggungjawabkan di akhirat. Kalau anak merupakan isyarat kehadirannya di muka bumi, maka ia juga penentu masa depannya di akhirat. Dari situ ia menemukan semangat penumbuhan tanpa batas: anak memberinya kebanggaan eksistensial, juga sebuah pertanggungjawaban dan sepucuk harapan tentang tempat yang lebih terhormat di surga berkat doa-doa sang anak.

Dalam semua perasaan itu sang ibu tidak sendiri. Sang ayah juga berserikat bersamanya. Sebab anak itu bukti kesepakatan jiwa mereka. Mungkin karena kesadaran tentang sisi dalam jiwa orang tua itu, DR Mustafa Sibai menulis persembahan kecil di halaman depan buku monumentalnya "Kedudukan Sunah dalam Syariat Islam". Buku itu, kata Sibai, kupersembahkan kepada ruh ayahandaku yang senantiasa melantunkan doa-doanya: "Ya Allah, jadikanlah anakku sebagai sumber kebaikanku di akhirat kelak."
Doa sang ibu dan sang ayah selamanya merupakan potongan-potongan jiwanya! Karena itu ia selamanya terkabul!

(Anis Matta - Tarbawi)

22 July 2008

Hidup itu LIVE!

LAUT. Sering diibaratkan sebagai arung kehidupan. Jika seseorang menikah, maka ia akan mendapat ucapan selamat mengarungi bahtera kehidupan.

Lewat laut, kita bisa becermin diri dan kehidupan kita. Lewat ombaknya. Lewat kedalamannya. Juga lewat apa yang ada di dalamnya.

Kita tentu sepakat. Tak ada orang yang tidak suka pergi ke pantai. Memandang ke batas cakrawala, merasakan belaian lembut ombak di jemari kaki kita. Desahan angin yang mengabarkan tentang kehidupan. Semua. Ya, semua. Semua yang ada di pantai terasa indah dan menentramkan. Kenangannya akan terasa, meski kita sudah sampai di rumah.

Begitulah seharusnya kita hidup. Memberi ketentraman dan kenyamanan bagi siapa saja yang berinteraksi dengan kita. Dengan senyuman kita, kata yang santun jauh dari menyakitkan, tatapan yang teduh, uluran tangan yang bersahabat, dan jejak kaki yang mengarahkan kepada kebaikan. Sehingga kita akan diingat, meski kita berjauhan dengan orang yang pernah kenal.

Jika kita perhatikan, tak pernah sekalipun laut memberikan kita ombak yang sama. Dari awal hingga akhir, ia menyajikan sesuatu yang berbeda. Ombak menggulung di tengah lautan, dan membuncah ketika menemui karang. Namun, ia memberikan satu kepastian. Ombak selalu datang. Tak pernah sekalipun ia ingkar, absen. Memberikan sensasi bagi yang melihat juga memberikan kehidupan bagi makhluk yang ada di dalamnya.

Kita seharusnya mencontoh ombak dalam beraktivitas. Senantiasa menjaga diri dengan aktivitas yang kita lakukan setiap hari. Jangan lakukan sesuatu dengan terus menerus tanpa ada variasi, karena akan mendatangkan kejemuan dan kebosanan. Dan yang pasti, selalu bergerak. Jangan biarkan hari kita berlalu tanpa sesuatu yang berarti. Entah bagi diri, bagi orang di sekitar, atau bagi alam. Untuk dunia yang kita buru, atau akhirat yang kita harap. Dengan gerak, kita hidupkan diri dan orang di sekitar kita.

Karena hidup itu adalah live! Langsung tanpa kenal siaran tunda. Maka jangan tunggu hari esok apa yang bisa kita lakukan hari ini. Jangan harap kita bisa mengulang kesempatan yang pernah kita dapatkan. Mulailah bergerak dan berkarya.

15 July 2008

34th

Pada hari ini, genap sudah usiaku menjadi 34 tahun. Tak terasa. Begitu cepat masa berlalu. Terkadang, memang, aku lupa dengan berapa usiaku. Kegiatan yang bertumpuk, terlebih karena waktuku banyak yang kuhabiskan dengan anak-anak usia SD, seakan melupakanku dengan umurku yang sebenarnya. Serasa masih usia 25-an saja. Namun, ucapan selamat ulang tahun dari istri dan anakku seolah menyadarkanku. Ah, 34 tahun. Belum banyak yang telah kulakukan. Belum banyak yang kuperbuat untuk keluargaku, untuk tetangga, untuk umat, bahkan untuk Allah. Aku malu. Benar-benar malu. 34 tahun. Belum ada karya yang dapat dinikmati orang lain. Ya Allah... tak terhitung nikmat yang telah Kau limpahkan namun teramat sedikit syukurku tak jarang panggilan Mu tak kugubris astaghfirullah.. ampuni diri ini ya Allah bila masa yang telah kulewati tak banyak yang dapat kupersembahkan untukmu teramat jamak perintah Mu yang kadang kuacuhkan terlalu banyak larangan Mu yang sering kulanggar ampuni kelemahan jiwa ini Ya Rahman... kasihanilah diri ini. beri aku kesempatan, kemudahan serta kekuatan untuk dapat berkarya yang lebih baik untuk dapat menghamba kepada Mu untuk memberikan tenaga dan fikirku untuk dunia dan akhiratku

07 July 2008

Bacalah

Bismillaahirrahmaanirrahiim Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
 
free counters

Pokjar nGeblog