28 August 2008

Bergembirakah Kita dengan Ramadhan?

Perjalanan hidup yang terus berguncang-guncang, cita-cita yang nyaris jauh dari keberhasilan, banyaknya masalah yang saya alami setiap kali bulan puasa datang, membuat ada rasa trauma setiap kali Ramadhan hadir di tengah-tengah saya. Sehingga saya menyikapi Ramadhan sebagai sebuah bulan yang tidak menyenangkan bagi saya. Sebab kala itu, ada saja kesusahan yang datang menyapa.

Saya pernah sangat iri dengan teman atau banyak orang di lingkungan saya yang begitu gembira setiap kali Ramadhan datang. Saya tak tahu, apa yang mendasari mereka, sehingga bisa bersikap dan bertindak seperti itu.

Setiap Ramadhan hadir menyapa kita, telinga saya selalu digelitik oleh para Da’i baik lewat ceramah ataupun lewat buletin-buletin dakwah. Bahwa sebagai seorang muslim yang mu’min, tentu akan sangat gembira dengan datangnya bulan agung ini.

Saya bertanya kepada diri sendiri, kegembiraan yang seperti apa ya? Kenapa aku justru sangat gelisah setiap kali memasuki Ramadhan? Saya mencoba menyiasati kalimat yang berdasarkan sabda Rasul itu.

Lewat pengalaman hidup yang begitu panjang, saya bisa mendapat pencerahan dari hal-hal yang berkaitan dengan bulan agung itu. Ternyata selama bertahun-tahun, saya memandang kehadiran Ramadhan seperti layaknya bulan-bulan yang lain. Artinya biasa-biasa saja. Saya ternyata tak begitu serius menyambut Ramadhan dengan sepenuh hati dan jiwa dengan napas ruhani yang kental.

Berkat sering berdekatan dengan teman-teman saya yang paham dengan Islam, saya agak sedikit paham dengan kehadiran bulan suci itu. “Sudah selayaknya kita bergembira denga datangnya bulan berkah ini. Bahkan jika tidak gembira, maka status ke-Islam-an kita perlu dipertanyakan.”

Begitulah isi sebuah bulletin dakwah yang saya temukan di dekat sebuah masjid kampus. Beberapa waktu kemudian, seorang teman menyodorkan kepada saya sebuah kertas yang bertuliskan nasehat Rasulullah SAW menjelang Ramadhan, yang diriwayatkan Ibnu Huzaimah.

“Wahai manusia, sungguh telah datang kepada kalian bulan Allah yang membawa berkah, rahmat dan maghfirah. Bulan yang paling mulia di sisi Allah. Hari-harinya adalah yang paling utama. Malam-malamnya adalah malam-malam yang paling utama. Jam demi jamnya adalah jam-jam yang paling utama.

Inilah bulan ketika kamu di undang menjadi tamu Allah dan dimuliakan oleh-Nya. Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi tasbih, tidurmu menjadi ibadah, amal-amalmu diterima dan doa-doamu diijabah. Bermohonlah kepada Allah Rabbmu dengan niat yang tulus dan hati yang suci agar Allah membimbingmu untuk melakukan puasa dan membaca kitab-Nya.”

Dari sepenggal hadits itu saja, memang sudah selayaknya kita amat gembira dengan datangnya Ramadhan. Sebab betapa banyaknya kemuliaan yang dihamparkan oleh Allah. Jika kita menghitung pahala dari-Nya secara matematis, maka tak ada mesin hitung hasil teknologi manusia manapun yang sanggup menghitungnya.

Jadi mau apalagi yang kita cari di dunia ini? Maka di Ramadhan tahun inipun, saya juga mencoba untuk terus gembira, sebab saya masih diberi kesempatan oleh Allah untuk ikut mengais kemuliaan di bulan agung ini.

Tentu bukan kegembiraan khas anak kecil yang bersorak-sore, karena makan kolak dan main kembang api setiap kali bedug berbuka puasa berbunyi, tapi kegembiraan dalam koridor syari’at yang diimbangi dengan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT. Karena dengan rasa itu semua, kita akan dijauhkan dari api neraka. Pendek kata, kita akan mendapat ampunan dari-Nya. Bukankah Rasulullah telah bersabda begitu?

*** Sus Woyo - woyo_sus@yahoo.co.id

24 August 2008

Tentangmu, Anakku!










tangismu....
memberi tanda kehadiranmu di dunia

senyummu...
memberi arti tersendiri dalam hidupku
menawar hati yang luka

tawamu...
meriahkan hari-hariku

penentanganmu...
memberi pelajaran untukku arti kesabaran

kebandelanmu...
tatapan matamu...
semua.. ya semua...
semua hal tentang dirimu
telah menghisap.. merebut..
perhatianku...
cintaku...
sayangku...

kaulah permata hatiku....

(Barokallah ya Nak, genap sudah usiamu menjadi 8 tahun)

17 August 2008

Merdeka! Merdeka?! Merdeka?

17 Agustus 1945 Merdeka! Merdeka! Merdeka! 17 Agustus 1966 Merdeka! Merdeka! Merdeka?! 17 Agustus 1998 Merdeka! Merdeka! Merdeka! 17 Agustus 2000 Merdeka! Merdeka?! Merdeka?! 17 Agustus 2008 Merdeka?! Merdeka? ?? ....................

14 August 2008

Sebuah Nama

NAMANYA siapa? Atikah. Atikah siapa? Atikah thok (saja). Yah, itulah sekelumit percakapan yang sering kudengar, bila seseorang menanyakan nama kepada anakku. Sang penanya, selalu menanyakan kelanjutan nama anakku. Seolah sesuatu yang tidak lazim, ketika ada seorang anak mempunya nama yang singkat, satu kata.

Bagi kebanyakan orang, nama biasanya terdiri dari dua kata atau lebih. Ada yang memberi nama anaknya dengan cara ‘patungan’, nama sang ayah dan nama sang ibu digabung, atau sang ayah memberi nama ditambah dengan nama pemberian dari sang kakek, ditambah nama pemberian pak kiai, dan sebagainya.

Ada pula yang memberi nama diambil dari nama artis kesukaannya, dari bahasa jawa, inggris, indonesia, sanskerta, dan macam yang lainnya. Bahkan, ada juga yang memberi nama anaknya sesuai dengan jumlah kotak yang ada di formulir pendaftaran perguruang tinggi, tidak kurang dan tidak lebih!

Suatu ketika, anakku bertanya, siapa nama panjangnya. Dan ketika kujawab, namanya ya Atikah. Dia tidak terima. Karena ya itu tadi, dia selalu ditanya kelanjutan namanya. Rupanya dia juga ingin punya nama yang panjang seperti nama teman-temannya. Kalau sudah begitu, maka akan kujawab, namamu Atikah binti Abdul Hakim bin Muhammad. Dan setelah itu, ia akan tersenyum lebar. Puas.

‘Alaa kulli hal, nama adalah doa dan pengharapan kedua orang tua. Panjang atau pendek, memakai bahasa apapun, dengan cara apapun. Dan pertanyaaan, Atikah siapa? Akan tetap sering kudengar, dan anakku pun tidak akan bosan untuk menjawab, Atikah thok (saja).

10 August 2008

Surat Sahabat (2)





Kepada sahabatku di manapun engkau berada
Semoga Allah senantiasa melimpahkan anugerah-Nya


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji hanya milik Allah, yang menggerakkan gunung sebagaimana geraknya awan, yang menyatukan hati-hati orang yang beriman.

Sholawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada suri tauladan kita, manusia terbaik di antara yang terbaik, Rasulullah Muhammad shalallhu ‘alaihi wa salam. Juga kepada kerabat, sahabat serta ummatnya hingga yaumil qiyamah nantinya.

Sahabat, sudah sampaikah surat yang ku kirimkan beberapa hari yang lalu?

Afwan (maaf), bila engkau kebingungan untuk membacanya. Bukan maksudku untuk menyusahkanmu. Tak usah engkau bersusah payah mencari kamus untuk menterjemahkannya apalagi memahami isi suratku itu, karena tak akan kau temui dari kamus manapun, kamus dari bahasa manapun. Bahkan dengan kamus bahasa isyarat sekali pun tidak akan bisa kau terjemahkan.

Sahabat, bagaimana rasanya ketika engkau membaca suratku itu? Bingung? Penasaran? Jengkel? Atau, langsung kau buang suratku itu? Tapi sahabat, itulah yang sering kita lakukan. Ya, bahkan tiap hari.

Bukankah tiap hari, secara rutin dan tetap, 5 kali kita menghadap-Nya, SHOLAT.

Tapi tahukah sahabat, apa yang sahabat baca ketika sholat, ketika mengadu kepada-Nya, ketika sujud tersungkur di ‘kaki’-Nya? Kita bicara tanpa tahu apa yang kita ucapkan.

Yah, aku bisa memahami. Karena semua bacaan yang kita baca adalah bahasa Arab (bahasa al Qur-an) bukan bahasa ibu kita (Indonesia).

Namun, pernahkah sahabat berusaha untuk mengetahui apa arti kalimat yang kita baca dalam sholat? Atau memahami sepatah demi sepatah kata yang kita lantunkan ketika sholat? Pernahkah sahabat berusaha menghayatinya?

Jika belum, berarti sahabat akan membaca sebagaimana membaca suratku yang terdahulu. Panjang atau pun pendek, sahabat tidak tahu apa yang sahabat baca. Tidak tahu apa yang kita pinta.

Sahabat, Allah Mahapenyayang juga Mahapengampun. Belum dan tidak ada kata terlambat untuk menuju ke arah yang lebih baik.

Kita bisa memanfaatkan al Qur-an terjemah yang banyak beredar di masyarakat. Bahkan juga ada yang diterjemahkan kata demi kata. Insya Allah itu semua akan membantu sahabat untuk memahami apa saja yang kita lakukan dalam sholat. Jika sahabat mampu memahami bacaan sholat, aku yakin, sahabat akan merasakan nikmatnya bertemu dengan-Nya. Bahkan rindu untuk segera berjumpa dengannya.

Sekian dulu sahabat, surat dariku. Sekali lagi aku mohon maaf. Bukan maksud untuk membuatmu susah. Sekali lagi tidak. Semua itu aku lakukan, karena aku menyayangimu. Karena aku mencintamu, karena Allah.

Semoga Allah memberikan hidayah-Nya. Memudahkan kita untuk bermunajat kepada-Nya, memahami kalimat-kalimat-Nya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabatmu yang senantiasa mencintaimu

07 August 2008

Di Sebuah Ceruk

SEEKOR ikan salmon kecil berenang mengikuti arus sungai. Ia hendak menuju ke lautan, mengikuti naluri alaminya. Setelah berenang cukup lama, tibalah ia di sebuah ceruk*. Ia beristirahat sejenak, sambil menikmati lingkungannya yang baru itu. Dalam ceruk tersebut, ia menemukan kedamaian dan ketenangan, di samping juga makanan yang berlimpah.

Dengan arus sungai yang tenang, ia merasa termanjakan. Inilah rumahku, inilah tujuan akhirku. Batin ikan salmon kecil. Tak perlu aku pergi ke lautan, tempat yang belum pernah aku datangi. Aku tak yakin, apakah di lautan sana akan kutemui kedamaian dan ketenangan seperti yang kurasakan saat ini.

Diacuhkannya ajakan sesama ikan salmon untuk meneruskan perjalanan. Ia asyik dengan dunianya. Buat apa capek-capek mengejar sesuatu yang tak pasti, pikir ikan salmon kecil lagi.

Tak berapa lama, datanglah serombongan ikan salmon dewasa. Dengan berbondong-bondong, sekuat tenaga mereka melawan arus.

“Hendak ke mana kalian?” tanya salmon kecil.

“Kami hendak menuju ke hulu, bertelur, dan mati. Itulah takdir kami”, jawab salah satu di antara mereka.

“Ooo”, jawab salmon kecil pendek.

Salmon dewasa menatap heran.

“Kenapa engkau tidak menuju ke lautan?”, tanyanya.

“Aku tidak mau.”

“Kenapa?”

“Buat apa? Aku sudah menemukan kehidupan yang baik di sini. Nyaman, tenang, dan kehidupanku mapan,” jawab salmon kecil.

Salmon dewasa terdiam. Ia segera berlalu, meneruskan perjalanan. Tapi belum jauh, ia kembali menoleh ke belakang.

“Tahukah engkau, bahwa di lautan sana engkau akan menemui hal-hal yang lebih baik dibandingkan di sini?”

“Benarkah?” tanya salmon kecil masih tak percaya.

“Benar. Percayalah padaku. Bukankah aku barusan pulang dari sana?” jawab salmon dewasa tersenyum.

Salmon kecil diam sejenak. Berfikir. Akhirnya...

“Baiklah, aku akan ke sana. Doakan, agar aku menemukan apa yang kuidam-idamkan,” jawab salmon kecil dengan mata berbinar. Segera ia berenang kembali, menyusul teman-temannya yang sudah terlebih dahulu berangkat. Kali ini dengan penuh semangat dan optimis.

Sahabat...

Dalam menjalani kehidupan ini, mungkin kita pernah menemukan beberapa ceruk. Setiap ceruk yang kita jumpai memberikan pesona dan daya tariknya. Merayu siapa saja yang melewati, untuk tidak beranjak darinya.

Kita merasa puas dengan apa yang sudah kita raih. Merasa cukup dengan keluarga yang (mungkin) kita bina, kehidupan yang mapan, lingkungan yang baik. Semua hal yang melingkupi kita.

Tapi ada satu hal yang mungkin kita lupakan, bahwa ceruk tidak hanya satu. Masih banyak ceruk-ceruk yang lain. Dan ada sebuah ceruk yang istimewa, sebuah ceruk yang lebih besar, lebih luas, lebih menyenangkan, lebih.........

Meski tidak mudah untuk mencapai ceruk idaman itu, meski banyak rintangan yang harus kita terjang, meski banyak cobaan yang harus kita hadapi, meski banyak........

Tapi kita harus berusaha, dengan penuh semangat dan optimis. Seperti ikan salmon kecil tadi.

Tahukah sahabat, apa ceruk idaman tadi? Ya, surga.

* Ceruk adalah cekungan yang terdapat di sungai, yang terjadi karena arus sungai. Biasanya terdapat di sebelah bawah batu besar. Karakteristik airnya tenang dan terdapat banyak hewan kecil (planton) di sana.

04 August 2008

Surat Sahabat







Kepada sahabatku di manapun engkau berada
Semoga Allah senantiasa memberimu petunjuk

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alahijuih yewuijoka jikai juki gohsi uigasku jubisofa ituasy wojarki laj opuiasu difakjas fojiakila lakasujafokangju.

Yuider takopiture kangliguatur. Sepuita karemani. Builokamba faterakuce yupanggo sehugatery. Jongkidahsyi, fajiksa kaifo ulah syofihas icok ashfie kojaling sokifu poaser ilosig jiklasf uiaki (lifirhgo iklasfh).

Buildo ti loe to tiopwir soliuko tituf protadie gonguque wixyeadey plundota jio kaputerute. Loikash, julu zeiluas modhiv quiklasf. Liksuhs sidho foekw hoesef uikolpo oworpoqwr zylpioad jykh sekfnasfiop opwfio fui ioashhas oiashfuisadfh ioasdhfuish.
Sahgute yopu kilotupaei quatery gukapumo dikale takudes. Likasuje dofakal saf io, asui 07.16 iaysty fwi kophil sudif uisdihaf uishfkl po 89 asuish dofair oi sfyowerpo 98 yaks difina io ashyhd ofiashf. Ohasdufh pipokl kjohohui iuw riowjarao iostrue fiuhsf.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Sahabatmu yang senantiasa mendoakanmu

01 August 2008

Metamorphosis!

MASIH ingat dengan kisah si Ulat Kecil? Yah, ulat kecil yang rakus, yang menghuni kebunku. Setelah beberapa hari makan tiada henti, kini ia tidur berselimutkan kepompong. Menggantung di bawah daun pisang yang sudah tidak utuh lagi. Masih sama, siang dan malam tidur. Baginya seolah waktu berhenti. Setelah berhari-hari tiada henti makan dan makan, maka aku akan tidur berhari-hari. Mungkin begitu yang ia rasakan.

Beberapa hari kemudian, kepompong tempat tinggal si ulat kecil telah kosong. Tinggal kepompongnya yang transparan tergantung di bawah daun pisang, robek. Tahukah sahabat, kemana pergi si ulat kecilku? Seperti apakah rupanya kali? Masihkah ia seperti dulu? Hijau, berkaki banyak, membuat geli dan takut orang yang melihatnya? Tidak. Ia tidak seperti yang dulu lagi. Ia sudah bukan si ulat kecil lagi, ia telah berubah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Menyenangkan bagi yang melihatnya. Terbang melayang perlahan dengan sayapnya yang tetap mungil dan indah.

Ya, ia telah berubah. Ia telah bermetamorfosis. Berubah dari satu keadaan ke keadaan yang lain. Dimana, keadaannya yang baru berbeda jauh dari keadaannya yang lama.

Sahabat.....

Tahukah engkau Fudhail bin Iyadh? Ia seorang yang membaktikan dirinya mengurusi air minum para jamaah haji. Ia juga menjadi seorang ahli hadits, yang menjadi rujukan di kota Makkah.

Namun, tahukah sahabat, Siapa Fudhail sebelum itu semua?

Fudhail, dikenal sebagai pemuda yang cerdas, berwibawa dari Khurasan. Ia pandai bergaul. Tidak hanya dari kalangan Muslim saja, tetapi banyak pemuda Yahudi dan Nashrani ikut bergabung dengan kelompok yang ia dirikan.

Namun sayang, kelompok yang ia pimpin dikenal sebagai gerombolan perampok! Tak heran, jika nama Fudhail sangat dikenal dan ditakuti, baik di kalangan sesama penyamun, maupun di kalangan kafilah niaga yang sering menjadi sasaran mereka.

Suatu malam yang gelap gulita, ketika seisi kampung mulai terlelap. Dengan mengendap-endap, ia mendatangi rumah sang pujaan hatinya. Naik ke atas genteng seperti yang biasa ia lakukan. Tak seorangpun yang menetahuinya. Tidak berapa lama, lewatlah serombongan kafilah yang sedang kemalaman. Untuk menghilangkan rasa takut dari serangan penyamun, seorang diantara mereka berjalan sambil melantunkan ayat-ayat al Qur-an. Kebetulan yang dibacanya adalah ayat, “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, supaya hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang diturunkan (kepada mereka)?” (QS Al Hadid: 16)

Mendengar itu, tiba-tiba saja Fudhail menggigil. Dari tubuhnya mengalir keringat dingin. Ia tak kuasa menahan rasa taku, air matanya pun mengalir tak terbendung. Ia menangis, berteriak histeris, “Sekarang telah datang waktunya! Sekarang telah datang waktunya!” Merasakan seakan-akan ayat tersebut ditujukan khusus kepadanya.

Di dalam kesendirian, ia melompat dari atas genteng. Berlari sekuat tenaga menembus gelapnya malam, menuju rumahnya. Pulang. Namun, karena malam telah larut, ia terpaksa berhenti di sebuah reruntuhan bangunan tua, yang telah lebih dulu disinggahi serombongan kafilah dagang. Ia masuk tanpa diketahui oleh mereka. Tetapi, belum lagi ia sempat mengatur nafasnya, seorang di antara mereka berkata, “Mari kita teruskan perjalanan.” Temannya menyahut, “Bagaimana kalau di tengah jalan kita dihadang Fudhail?”

Mendengar percakapan itu, Fudhail menangis sedih. Ia berkata, “Namaku disebut orang di malam hari karena kemaksiatan, sedang mereka meresa takut denganku. Tidaklah Allah menunjukkan aku kepada mereka, melainkan agar aku sadar. Ya Allah, kini aku bertaubat kepada-Mu.”

Esoknya, Fudhail berangkat ke Kufah, Irak. Untuk menuntut ilmu, meninggalkan keluarga, sahabat dan anak buahnya, ditemani sunyi dan kesendirian. Di sana ia belajar dengan sungguh-sungguh. Sebagai pemuda cerdas yang haus ampunan dan kasih sayang Allah, Allah membukakan dadanya untuk menerima banyak ilmu hingga ia menjadi ahli hadits.

Sahabat.....

Fudhail bin Iyadh telah bermetamorfosa. Dari satu kondisi ke kondisi yang lain. Dari seorang penyamun yang disegani dan ditakuti, menjadi seorang ahli ilmu dan hadits, yang disegani dan dihormati. Tak terkecuali Khalifah Harun Ar Rasyid, yang kerap datang jauh-jauh dari Baghdad (Irak) menuju ke Makkah, menemuinya hanya untuk mendengar nasihatnya.

Sahabat...

Bagaimanakah dengan kita? Sudahkah kita bermetamorfosa? Meninggalkan sebuah dosa yang pernah kita buat, dan menggantinya dengan sejuta kebaikan. Butuh berapa kejadiankah agar kita bermetamorfosa? Tidak ada kita terlambat. Kita bisa bermetamorfosa. Seperti ulat yang menjadi kupu-kupu. Seperti Fudhail bin Iyadh. Seperti kita.

 
free counters

Pokjar nGeblog