16 September 2008
Pindah Rumah
15 September 2008
Ayah, Anak dan Seekor Keledai
PAGI di sebuah rumah sederhana .... Seorang lelaki tua berjalan menuntun seekor keledai yang sudah tua juga. Di belakangnya, berjalan seorang anak, mengikuti.
“Nak, nanti kita bergantian menunggang keledai ini,” kata sang lelaki tua kepada anak yang tak lain adalah anaknya.
“Baiklah, Yah,” jawab anak singkat.
Giliran pertama, sang ayah naik. Itu kesepakatan di antara mereka berdua.
Belum jauh mereka melangkah, mereka berpapasan dengan penduduk desa.
“Dasar orang tua tak kenal kasihan. Masak anaknya yang masih kecil disuruh menuntun keledai. Sedang ia enak-enakan naik keledai.”
Mendengar hal itu, sang ayah pun turun. Dan ia pun meminta anaknya untuk naik ke punggung keledai.
Jeda beberapa langkah, seorang penduduk desa yang hendak pergi ke luar kota menghardik anak lelaki tua itu.
“Hai, anak muda. Kulihat kaki-kakimu masih kokoh untuk berjalan. Kenapa tidak kau biarkan ayahmu yang sudah renta itu untuk naik di atas keledai. Apakah engkau hendak menjadi anak yang durhaka. Ha!”
Buru-buru sang anak turun.
Kedua bapak-anak itu pun tertegun. Bingung harus bagaimana. Siapa yang harus naik keledai mereka.
Maka diputuskan, mereka menaiki keledai itu berdua agar sang ayah tidak dikatakan tak sayang anak, dan sang anak pun tidak dikatakan anak durhaka.
Namun sayang. Ulah mereka pun mendapat teguran dari seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.
“Hai manusia-manusia yang tak berakal. Bagaimana kalian bisa menaiki keledai yang sudah tua dan jalan terseok-seok itu? Tidakkah kalian merasa kasihan kepada keledai itu? Bukankah itu perbuatan zholim?”
Dihardik demikian bapak anak tadi segera buru-buru turun dari atas keledai.
Keduanya makin bingung. Sedang perjalanan mereka masih jauh. Tapi apa boleh buat.
Akhirnya keduanya hanya menuntun keledai yang mereka bawa.
Di dekat sebuah kebun kurma, beberapa orang yang sedang berkumpul nampak menertawakan bapak-anak tersebut.
“Hai kawan, lihatlah orang-orang gila itu!” teriak salah seorang diantara mereka.
“Punya hewan tunggangan kok tidak ditunggangi!” lanjutnya. Teman-temannya segera ikut menertawakannya.
Sang ayah segera mempercepat langkahnya. Setelah cukup jauh dari kerumunan orang tadi, ia berujar kepada anaknya.
“Nak, lihatlah. Apa yang kita alami hari ini. Jika kita hanya mengikuti pendapat orang-orang di sekeliling kita, maka itu tiada habisnya.”
08 September 2008
Revisi Hidup
MUNGKIN kita pernah melintas di sebuah jalan. Lalu di ujung sana tertera tulisan "Jalan Ditutup" karena sedang ada perbaikan. Tetapi ini bukan berarti bahwa jalan tersebut tidak dapat dilalui kembali, atau kita harus menunggu hingga perbaikan selesai. Terlalu banyak waktu dan kesempatan kita yang terbuang jika kita mengambil keputusan itu. Selalu ada cara dan jalan lain untuk melanjutkan perjalanan kita. Mungkin dengan melalui jalan-jalan dan gang-gang sempit, serta tikungan-tikuangan yang sedikit membahayakan. Tetapi, bahwa segala sesuatu mesti bila kita usahakan hingga akhirnya dapat sampai tujuan. Begitu pula, ketika kita hanya menguasai bidang tertentu, atau dalam suatu bidang hanya sedikit peluang, maka kita harus berusaha mencari tahu dan menemukan berbagai peluang dalam bidang-bidang lainnya. Ketika kita gagal untuk menemukan satu tempat di depan barisan, selalu ada upaya lain di barisan belakang. Sehingga akhirnya tersedia satu tempat kosong untuk kita. Kuncinya adalah, sekali lagi, merevisi bagian-bagian hidup kita dan terus bekerja untuk sesuatu yang kita mampu. Karena Allah akan menjadi saksi untuk kerja-kerja keras kita.
"Dan katakanlah, "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." (QS. At Taubah: 104)
Ketika kita berani memulai sesuatu, sama artinya kita sedang mencoba suatu ilmu. Tindakan kita yang tidak lain adalah amal itu sendiri akan menghidupkan hati dengan pengetahuan dan keilmuan kita. Sedang ilmu yang dihasilkan oleh perbuatan, itulah sesuatu yang lekat yang menerangi jalan kita selanjutnya. Sehingga dengan itu kita dapat mengetahui dimana semestinya kaki kita pijakkan untuk menempuh jalan kehidupan yang penuh kesamaran.
Dalam hal ini, Allah berfirman, "Hai orang-orang yang beriman (kepada para Rasul), bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah memberikan rahmat-Nya kepadamu dua bagian, dan menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Ia mengampuni kamu. Dan Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang." (QS Al Hadid: 28)
05 September 2008
01 September 2008
Saat Kau Hadir
dulu...
ada rasa suka dan cita yang membuncah dalam dada
tika kau hadir
ada gelora asa dalam rindu
menyambutmu di pintu rumahku
ada kehangatan dan ketenangan dalam genggamanmu
juga ada duka dan air mata
saat melepasmu pergi, seolah tak rela
andai dapat kupinta
ku ingin menahanmu di rumahku yang sederhana ini
untuk beberapa saat lagi
kumau kau bertamu ke rumahku yang kecil ini
setiap hari sepanjang tahun
dan ketika waktu pun terus berlari
hari berganti minggu
berganti bulan dan tahun
ketika engkau hadir kembali
di rumahku yang tetap kecil dan sederhana
semua rasa seolah lenyap
hambar...
tak ada suka
tak ada gelora
tak ada duka
tak ada...
kosong
yang tersisa hanya hati yang mulai berkarat...
penuh noda dan cela
di saat engkau hadir kembali mengetuk pintu rumahku
yang sederhana dan kecil
kuingin satu permintaan saat ini
kuingin semua rasa itu hadir kembali bersama kehadiranmu
bersama kepergianmu...
agar kutemukan kembali
kedamaian yang pernah merasuk dalam hati

